Pentingnya Berhutang
Posted by faddo83 on 3 April 2012

Siapa tidak kenal kata ‘hutang’? Nyaris setiap kita sering mendengar kata ‘hutang’ (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut ‘utang’) yang artinya kurang lebih adalah uang yang dipinjam dari orang lain atau kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima.
Utang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Semiskin atau sekaya apapun, yang namanya utang selalu akan ada. Banyak hal yang menyebabkan diantara kita harus melakukannya. Misalnya karena kebutuhan mendesak, atau fasilitas tunai yang tidak tersedia sehingga harus berhutang, dan sebagainya.
Dalam Lingkup Keluarga / Rumah Tangga
Contoh nyata dalam kehidupan rumah tangga yaitu Kartu Kredit. Kartu kredit sejatinya adalah sebuah kartu yang memfasilitasi kita untuk berhutang. Berbagai kemudahan dan diskon kerap kali menjerat kita pada utang dimana wajib dibayar setiap bulannya. Tidak jarang terjadi gagal bayar yang menyebabkan kita menjadi ‘bulan-bulanan’ para debt collector. Memang, siapa sih yang tidak suka kemudahan. Hanya dengan sekali gesek maka akan diperoleh barang yang kita inginkan, handphone, laptop, gadget-gadget atau apapun. Apalagi pada saat tersebut sedang tidak membawa uang tunai, dengan asumsi tidak akan terasa ketika dibayar mencicil.
Utang juga bisa untuk memperoleh aset, modal, maupun investasi. Siapa yang tidak mau memiliki rumah, tanah, emas, dan usaha bisnis? Untuk memiliki itu dengan kondisi keuangan yang tidak mencukupi, maka pilihannya adalah berhutang. Bisa dibayangkan berapa puluh tahun untuk membeli rumah jika ingin membayar dengan tunai. Sebagai ilustrasi, untuk memiliki rumah seharta 300 juta dengan penghasilan bulanan 3 juta, berarti harus mengumpulkan uang selama 100 bulan dahulu dengan catatan tidak makan sama sekali, dan setelah 100 bulan harga rumah sudah 600 juta. Cape dee…
Dalam Lingkup Kenegaraan
Pun demikian dalam ruang lingkup kehidupan bernegara. Untuk membiayai kekurangan anggaran, di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terdapat pos tersendiri yaitu Pembiayaan (utang). Pembiayaan ini digunakan untuk menutupi kekurangan atau sering disebut dengan defisit. Sumber pembiayaan dapat diperoleh dari sumber dalam negeri maupun luar negeri. Pos pembiayaan di dalam APBN tersebut diantaranya dipergunakan untuk proyek-proyek besar dimana penerimaan negara tidak mampu membiayainya. Menggunakan analogi seperti kita mau membeli rumah dengan gaji terbatas, begitu pula proyek-proyek besar dan prioritas sangat membutuhkan pembiayaan agar bisa dibangun.
Memang, banyak sekali diantara kita protes keras terhadap utang negara Indonesia yang begitu besar. Namun sejarah mencatat, utang-utang yang menumpuk itu terjadi di masa lampau ketika negara kita dalam era ‘mercusuar’. Pembangunan gedung dimana-mana bahkan untuk hal-hal yang tidak ada kaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Pada masa itu bisa dikatakan pengelolaan utang sangat kurang bijaksana (jika tidak boleh menyebutnya buruk). Ditambah lagi dengan peristiwa pada tahun 1997-1998 yang betul-betul menyedot habis cadangan devisa negara, pengangguran dimana-mana, hancurnya nilai rupiah, dan sebagainya yang menyebabkan utang Indonesia naik berlipat-lipat.
Manajemen Utang
Untuk melakukan utang, alangkah bijaksananya jika sebelum berhutang agar dipikirkan kembali sebelum terjerumus dalam lembah kehancuran (wew….). Beberapa hal negatif dalam berhutang misalnya dipergunakan untuk:
- Disimpan tanpa suatu sebab.
- Membeli sesuatu yang sifatnya mudah rusak.
- Membeli sesuatu yang sifatnya gaya-gayaan seperti gadget.
- Membeli sesuatu karena kata ‘diskon’ padahal tidak sedang membutuhkan.
- Membeli sesuatu yang berat untuk dicicil kembali (kemahalan).
Sedangkan hal positif berhutang misalnya dipergunakan untuk:
- Membuka usaha.
- Membeli investasi (tanah, rumah, emas).
- Membeli kendaraan (sebagai sarana pendukung dalam mencari nafkah, bukan gaya-gayaan).
- Membangun proyek-proyek untuk kemashlahatan rakyat banyak (dalam lingkup kenegaraan).
- Dan sebagainya.
Karena ada hal negatif dan positif dalam berhutang, maka perlu dilakukan manajemen utang. Utang yang baik adalah utang yang jelas peruntukannya dan bukan bersifat konsumtif, tidak terlalu berat dalam mencicil, serta ada hal positif yang dihasilkannya.
Posted in Opini | Tagged: defisit, hutang, manajemen utang, utang | 5 Comments »


Bahan Bakar Umum (SPBU) akan terbaca spanduk yang tegas dan jelas “Premium adalah BBM bersubsidi hanya untuk golongan tidak mampu“. Menurut saya, itu merupakan sindiran yang luar biasa bagi orang-orang berpenghasilan menengah ke atas untuk segera beralih dari premium (bersubsidi), ke pertamax (non subsidi). Namun apa yang terjadi, kebanyakan pengguna mobil-mobil keren nan mentereng serta motor ber-cc besar (alias harga mahal) merasa tidak peduli sama sekali dengan sindiran itu. Kalaupun ada pengguna motor atau mobil yang membeli pertamax, itu bukan dikarenakan dengan spanduk tersebut, melainkan keinginan pribadi untuk merawat tunggangannya (termasuk ane sih, biar tangki motor kagak berkerak, hehe…).
























Dianalogikan oleh beliau dengan menyampaikan data penerbangan Indonesia pada tahun 2008 berkisar 750 ribu penerbangan, dan sepanjang tahun itu telah terjadi sekitar 700 error/permasalahan. Bukanlah angka yang sedikit, padahal 700 adalah 0,1% dari 750 ribu. Hal ini bisa saja terjadi karena human error, kesalahan teknis ringan, dan lain-lain yang ‘tampak’-nya sangat sepeleh. Tapi ketika dilihat hasil akhir akan menyuguhkan data yang luar biasa.